Alhamdulillah Kami Berdua Merasakan Nikmatnya Jadi Bagian Keluarga Besar KAGAMA: Ikang & Marissa

Alhamdulillah Kami Berdua Merasakan Nikmatnya Jadi Bagian Keluarga Besar KAGAMA: Ikang & Marissa
Alhamdulillah Kami Berdua Merasakan Nikmatnya Jadi Bagian Keluarga Besar KAGAMA (Keluarga Besar Alumni Gadjah Mada): Ikang Fawzi & Marissa Haque

Wisuda Ikang Fawzi & Marissa Haque dari FEB UGM, 2011

Wisuda Ikang Fawzi & Marissa Haque dari FEB UGM, 2011
Wisuda Ikang Fawzi & Marissa Haque dari FEB UGM, 2011

Tugu Yogyakarta, Vote Hanafi Rais-Tri hardjun, No 2, PAN Yogyakarta dalam Ikang Fawzi Marissa Haqu

Tugu Yogyakarta, Vote Hanafi Rais-Tri hardjun, No 2,  PAN Yogyakarta dalam Ikang Fawzi Marissa Haqu
Tugu Yogyakarta, Vote Hanafi Rais-Tri hardjun, No 2, PAN Yogyakarta dalam Ikang Fawzi Marissa Haque

Keunggulan Artis PAN Mendominasi Perpolitikan Nasional Indonesia, 2009: Ikang Fawzi & Marissa Haque

Keunggulan Artis PAN Mendominasi Perpolitikan Nasional Indonesia, 2009: Ikang Fawzi & Marissa Haque
Keunggulan Artis PAN Mendominasi Perpolitikan Nasional Indonesia, 2009: Ikang Fawzi & Marissa Haque

FEB UGM & FISIP UI, Ikang Fawzi, Isabella Fawzi, Marissa Haque, Chikita Fawzi

FEB UGM & FISIP UI, Ikang Fawzi, Isabella Fawzi, Marissa Haque, Chikita Fawzi
FEB UGM & FISIP UI, Ikang Fawzi, Isabella Fawzi, Marissa Haque, Chikita Fawzi

Ikang Fawzi Kasihku Kampanye untuk Hanafi Rais di Yogyakarta, Marissa Grace Haque Fawzi.

Ikang Fawzi  Kasihku Kampanye untuk Hanafi Rais di Yogyakarta, Marissa Grace Haque Fawzi.
Ikang Fawzi Kasihku Kampanye untuk Hanafi Rais di Yogyakarta, Marissa Grace Haque Fawzi.

Marissa Haque Fawzi Penggemar Baru Hanum Rais, 2011

Marissa Haque Fawzi Penggemar Baru Hanum Rais, Kapan Kita duet Bermain Piano Bersama ya Hanum?

Kamis, 15 September 2011

Ditengah Kerumuman Pendukung, Vote Hanafi Rais-Tri hardjun, No 2, PAN Yogyakarta dalam Ikang Fawzi Marissa Haque









Kalau melihat dukungan yang tinggi, kelihatannya insya Allah bisa menang ya Mas Hanafi Rais? May Allah bless you always...





Keunggulan Artis PAN Mendominasi Perpolitikan Nasional Indonesia: Ikang Fawzi & Marissa Haque




Keunggulan Artis PAN Mendominasi Perpolitikan Nasional Indonesia: Ikang Fawzi & Marissa Haque

Hanafi Rais Peduli Pertanian Terpadu Berkelanjutan: Marissa Haque Fawzi



Sebagai 'anak' IPB, ada hal yang mengharukan rasanya tertangkap oleh inderaku. Bahwa anak tertua Pak Amien Rais tersebut juga peduli sekali pada pertanian. Semoga selamanya demikian ya?

Karena belakangan ini trend yang terjadi adalah para lulusan fakultas pertanian malah mengurus yang ndak ada sangkut pautnya dengan pertanian itu sendiri. Semisal ada yang jadi wartawan dan malah sebagian besar jadi bankers. Duh!

Menang atau Kalau Memang Harus Legowo, Asal Semua Berlaku Jujur: Ikang dan Marissa




Dalam Setiap Pertandingan

Memang harus diakui bahwa dalam setiap pertandingan degdegan itu pasti akan selalu ada. Namun mintalah semuanya yang terbaik hanya menurut Allah SWT. Just do the best ya Mas Hanafi yang baik... and Allah will do the rest! Allahu Akbar!

Amien Minta Hanafi Rais Tak Sedih Jika Kalah Pilwali Yogya; dalam Ikang Fawzi & Marissa Haquea




Laporan Reporter Tribun Jogja, Obet Doni Ardianto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Sebagai seorang ayah yang peduli dengan anaknya, pasti dia akan mendukung setiap sepak terjang anaknya dalam mengambil keputusan. Dukungan tersebut dapat berupa doa maupun pesan-pesan dalam mengambil langkah untuk keputusan yang dipilih. Hal ini pula yang dilakukan Amien Rais kepada anaknya, Hanafi Rais, yang running Pilwali Yogyakarta 2011.


"Saya, dan juga ibunya, berpesan jika Hanafi sudah mantap dengan keputusannya maka iklaskanlah niat dalam Pilwali Yogyakarta 2011. Selain itu, harus siap kalah. Siap kalah berarti tidak boleh sedih atau nglokro, dan harus bangkit lagi," tutur mantan ketua umum DPP PAN tersebut di sela-sela peresmian Gedung Administrasi Pusat RS PKU Muhammadiyah Delanggu, Klaten, Jateng, Jumat (22/4/2011) siang.

Jika Hanafi berhasil menjadi wali kota Yogyakarta, Amien mengingatkan supaya anaknya harus menjalankan tugas-tugas sebagai wali kota sebaik-baiknya. Di sisi lain, dia juga tidak boleh melupakan, bahkan harus melanjutkan prestasi yang telah dibuat wali kota sekarang, Herry Zudianto, yang berangkat dari PAN dan menjabat dua periode.

Selain itu, tambah Amien, Hanafi juga harus memahami bahwa menjadi wali kota sama halnya menjadi bapak bagi masyarakat Yogyakarta. "Masyarakat Yogyakarta merupakan masyarakat yang majemuk, baik dari segi agama maupun etnis. Saya berharap dia bisa menjadi payung yang mengayomi dan merangkul seluruh masyarakat, dan tidak boleh bersikap tebang pilih," tegas mantan ketua MPR RI ini.

Amien juga berpesan agar Hanafi dapat memanfaatkan ilmunya sebagai lulusan Universitas Gadjah Mada dengan sebaik-baiknya untuk mendukung langkahnya dalam pilwali. "Jangan lupa juga mendengarkan berbagai masukan dari siapapun untuk kebaikan pekerjaannya nanti," imbuhnya.

Mengenai sosok calon pendamping Hanafi, sebagai calon wakil wali kota, Amien tak berkomentar banyak. "Kalau yang saya dengar yang terakhir itu, dia mungkin mengambil salah satu tokoh birokrasi yang sudah memiliki jam terbang tinggi, supaya memudahkan pelaksanaannya menjadi wali kota nanti," ucap Amien, mantan ketua umum PP Muhammadiyah yang menjabat ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) DPP PAN.

Walikota Herry Zudianto Mendukung Hanafi Rais: dalam Ikang Fawzi dan Marissa Haque



Herry Zudianto Restui Hanafi Rais
Laporan Reporter Tribun Jogja,Rina Eviana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, (HZ) mengatakan Hanafi Rais (HR) telah meminta restu padanya untuk melanjutkan kepemimpinannya yang telah berlangsung 10 tahun. Herry pun menjawab, akan merestui putra sulung Amin Rais tersebut jika dirinya siap menjadi pelayan masyarakat, bukan sekedar mengejar kemuliaan.

Hal itu diungkapkan Herry Zudianto pada acara Malam Anugerah Tembang Kenangan untuk Kang Herry dan Kota Jogja, di Purawisata, Yogyakarta, Selasa (26/4/2011) malam. Herry juga berpesan kepada Hanafi, jika akan maju Pilkada 2011 mendatang, harus diniati dengan bismillah. " Menjadi wali kota itu tidak untuk mengejar kemuliaan. Tapi harus jadi pelayan masyarakat. Harus jadi orang tua, bisa ngemong dan bergaul dengan semua," katanya.

Dalam acara tersebut Herry Zudianto mendapatkan penghargaan dari Guyub Jogja dan Hanafi Rais Center berupa keris pamor udan riris. Penghargaan itu diserahkan Hanafi Rais.

"Saya sangat trenyuh dan terharu. Sekitar 50 penghargaan nasional sudah saya terima dan juga untuk semua. Masih banyak yang harus dilanjutkan untuk Yogyakarta kedepan," ucap Herry.

Hanafi Rais saat menyerahkan keris tersebut mengatakan, Kota Yogya semakin maju berkat kepemimpinan Herry Zudianto. Adapun keris pamor yang diserahkan kepada Wali Kota sebagai perlambang pemimpin yang membawa kesejahteraan rakyat.

Editor : junianto

"Walikota Herry Zudianto Mendukung Hanafi Rais, dalam Ikang Fawzi dan Marissa Haque"

Ironis, Gamelan Dan Keroncong Masuk dalam Kurikulum Negara Lain




Oleh : Nanok Triyono | 13-Mei-2011, 08:13:22 WIB

Sumber: http://hanafiraiscenter.blogspot.com/2011/05/ironis-gamelan-dan-keroncong-masuk.html#more


KabarIndonesia - Berbicara pendidikan di Indonesia selalu dihadapkan dengan kompleksitas permasalahannya, entah itu dari sisi sosial, ekonomi, budaya, geografis, sumber daya manusia, bahkan sampai kepdulian akan pendidikan masih minim. Sekedar melihat kembali bahwa kurikulum di Negara kita mengalami perubahan sejak kurikulum tahun 1947 (rencana pendidikan) sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pergantian tersebut juga masih belum tertuju dengan tepat.

Dalam kurikulum sekarang terdapat mata pelajaran Seni Budaya, yang secara lengkap mempelajari dan mengenalkan semua budaya Negara kita. Pelajaran ini paling tidak memiliki aspek yang diharapkan, baik dari pengenalan budaya sampai bagaimana peserta didik menyikapinya terutama mempraktekannya. Jika kita melihat sudut pandang kompleksitas permasalahan kurikulum, aspek tersebut banyak yang tidak kena sasaran, terutama dalam hal pengadaan fasilitas bahkan sumber daya manusianya juga terkadang kurang memahami.

Seni Budaya sudah terdapat mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah, atas dengan program yang berbeda pula. Beberapa kelemahan yang terjadi yakni kurangnya pemantapan program dalam seni budaya itu sendiri, sejauh pengamatan pendidikan di negara ini sekolah yang benar-benar memiliki fasilitas dan kompetensi untuk mengangkat Seni Budaya Indonesia masih saja kurang.

Beberapa tahun yang lalu sempat terjadi konflik mengenai seni dan budaya Indonesia oleh negara luar, sebut saja Malaysia yang mengklaim batik, dan Reog Ponorogo sebagai kebudayaan milik mereka.

Konflik tersebut terjadi karena apresiasi baik dari pemerintah dan masyarakat sangat minim mengenai seni budaya. Pemerintah kurang memperhatikan pelestarian budaya, terutama dalam pendidikan, masyarakatpun sudah banyak menganggap mempelajari seni dan budaya asli kita adalah hal kuno. Beberapa faktor tersebut menjadikan pola kurikulum dalam menjaga seni dan budaya Indonesia ikut terpengaruh.

Banyak sekolah yang menomorduakan mata pelajaran seni budaya, yang jika dipahami pelajaran ini sungguh memberikan kebanggaan tersendiri. Evaluasi pendidikan pun tidak mengenalkan kurikulum ini baik ketika tes atau ujian akhir. Dalam beberapa decade terakhir ini, Amerika dan Malaysia mengamati kemajuan kesenian Indonesia yakni gamelan dan music keroncong. Dua kesenian asli milik bangsa kita yang benar-benar dihargai di negara Lain.

Amerika memasukkan kurikulum gamelan dalam tingkatan taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, bahkan ketika masuk perguruan tinggi mahasiswa harus mengenal gamelan dengan baik. Mereka diajarkan untuk bermain gamelan walaupun tidak secakap orang Indonesia. Banyak orang Indonesia yang bangga karena gamelan masuk dalam kurikulum Amerika, tetapi mereka tidak sempat berpikir bahwa ironis sebenarnya ketika gamelan tidak masuk dalam kurikulum pendidikan walaupun beberapa sekolah sudah mulai memfasilitasi gamelan ini.

Malaysia mulai memasukkan kurikulum keroncong dalam pendidikannya. Negera tetangga itu sedang giat-giatnya mempromosikan keroncong melalui televisi, radio, dan kurikulum pendidikan. Jika kita simak di Indonesia, apresiasi keroncong minim sekali bahkan kurikulumpun juga minim sekali mengenalkan dan memperlajarinya. Pemerintah sebenarnya mampu mengatasi hal ini asalkan ketika kurikulum ini dimunculkan, maka pemerintah juga harus memikirkan masalah fasilitas dan pengajarnya, bahkan kalau bisa kurikulum ini masuk dalam evaluasi pendidikan peserta didik.

Ironis sekali ketika mendengar gamelan dan keroncong dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di luar negeri sedangkan Negara kita sendiri acuh terhadap pelestariannya. Tidak salah apabila banyak seni dan budaya kita mendapat klaim dari Negara lain, karena di negara kita sendiri apresiasinya sangat kurang.

Seniman tidak bisa berkembang apabila tidak didukung pemerintah karena hal ini menyangkut kinerja yang harus didukung banyak pihak, jangan sampai anak cucu kita kelak tidak mengenal sedikitpun tentang gamelan dan keroncong. Gamelan dan keroncong adalah milik Indonesia dan perkembangannya harus lebih pesat di Negara sendiri. Pemerintah harus lebih memperhatikan seni dan budaya sendiri untuk anak dan cucu kelak. (Nanok Triyono, S.Pd)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

Entri Populer